JEPARA, suaramerdeka.com - Lebih dari 100 pelajar dari Kudus dan Jepara, Minggu (11/5) melakukan upaya penyelamatan pantai dari ancaman abrasi di Desa Clering Kecamatan Donorojo, Jepara. Upaya penyelamatan dilakukan melalui penanaman mangrove (bakau) di hamparan pembatas garis pantai dengan tambak milik warga.
Mereka terdiri atas 70-an pelajar dari SMA Negeri 1 Jekulo-Kudus dan SMK Negeri 1 Jepara, serta 50 lebih dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Clering. Selain guru pembimbing dari sekolah masing-masing, mereka juga didampingi kelompok mangrove Sahabat Pantai.
Hal itu dikatakan Koordinator Organization Industrial Cultural Advichement (OISCA) Jepara Bambang Hadi Sutrisno, kemarin. OISCA International adalah organisasi sosial asal Jepang yang telah melakukan berbagai kegiatan di Jepara sejak 2009.
Bambang mengatakan, pihaknya melibatkan anak-anak dalam program ini sebagai upaya pengenalan dini akan arti pentingnya lingkungan hidup. ?Ada beberapa program yang dilakukan OISCA di Indonesia, di antaranya program Children's Forest Programme.
"Melalui program pendidikan lingkungan hidup ini kami berharap agar kelak mereka memahami betapa pentingnya memelihara lingkungan hidup serta mengerti bahaya dampak kerusakannya," jelas Bambang.
Pada kesempatan tersebut, dilakukan penanaman 7 ribu bibit mangrove. Lokasi penanaman memisahkan garis pantai dengan lahan tambak seluas 27 hektare yang sangat rawan abrasi.
"Sebenarnya upaya yang sama telah kami lakukan pada 2009. Tapi kali ini kami harus melakukan penyulaman karena sebagian besar mangrove yang telah kami tanam gagal tumbuh atau hilang terkena abrasi dan gelombang laut. Faktor dominan lain adalah sedikitnya debit air payau sehingga kadar garam di lokasi penanaman sangat tinggi. Selain itu struktur lahan ideal untuk tumbuh kembang mangrove adalah pantai berlumpur, tapi di sini mayoritas didominasi pasir," katanya.
Karena minimnya tingkat tumbuh bibit tertanam, Bambang berharap setiap saat pemerintah daerah proaktif melakukan upaya perlindungan pantai dengan menerbitkan perda pengelolaan lahan pantai.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar