Minggu, 21 Juni 2015

Gula Mangrove dari Desa Deaga


Proses pengambilan nira nypa untuk menjadi gula merah. Foto: Themmy Doaly
Belajar sambil praktikInilah yang dilakukan warga Desa Deaga, Sulawesi Utara. Hampir sebulan mereka pelatihan membuat gula merah dari nypa, salah satu jenis mangrove.
Valdi Ndala, warga Desa Deaga, mengatakan, tak banyak masyarakat mengetahui tumbuhan itu bisa diolah menjadi gula merah. Kini, mereka berhasil membuatnya.
Warga melakukan sejumlah percobaan. Misal, menentukan 180 mayang sebagai sampel berdasarkan jenis, 60 mayang muda, 60 matang dan 60 tua. Mereka membersihkan sebagian kulit mayang agar memudahkan sirkulasi air nira. Ujung mayang diikat tali rafia.
Lalu mengetuk-ngetuk mayang perlahan dan berhati-hati guna menghindari kerusakan kulit, sekitar enam jam yang dikerjakan tiga orang.
Langkah ini kemungkinan buat membuka pori-pori mayang guna mengeluarkan cairan nira. Setelah waktu tertentu, buah dipotong, lalu mengikat daun untuk menutup ujung mayang selama 24 jam agar tidak kering dan tak terkena matahari langsung. Lalu, beberapa media bisa menjadi penampung air, seperti plastik, jerigen atau botol.
“Percobaan selama satu bulan, mayang matang menghasilkan air paling banyak. Sekitar 400-600 ml dalam 1×24 jam,” kata Valdi.
Cairan nira cukup jernih. Tidak berbau dan tidak berwarna. Nyaris menyerupai air mineral. Saya sempat mencicipi. Manis dan sedikit asin.
Air nira nypa jernih dengan rasa manis dan sedikit asin. Foto: Themmy Doaly
Setelah penyadapan, 20 ibu-ibu terbagi dalam dua kelompok mulai memasak. Mujidah Ambar, mengatakan, memasak air nira sekitar dua jam agar merah alami. “Tuangkan gula merah ke tempurung. Perlu setengah jam agar keras. Satu liter nira bisa dua cetakan.”
Menurut dia, jika dikelola maksimal gula nypa bisa menjadi peluang usaha bagi warga. Terlebih, produsen gula merah baru di Kotamubagu, belum ada di Bolaang Mongondow Selatan. “Di pasar lokal harga gula merah Rp20.000-Rp30.000. Kalau produksi bisa maksimal, ibu-ibu dapat mendukung peningkatan pendapatan ekonomi.”
Namun, kata Mujidah, perlu tahu teknik lebih tepat dalam memasak gula  ini. Dari sejumlah percobaan, gula nypa tidak sekeras gula merah biasa. “Kalau gula merah lain mudah dipotong. Gula nypa agak kenyal. Mungkin, ada kesalahan, kami perlu mencoba teknik lebih tepat,” katanya.
Yakob Botutihe, pendamping lapangan Perkumpulan Kelompok Pengelola Sumber Daya Alam (Kelola), mengungkapkan, ada keterkaitan antara upaya perlindungan mangrove dan pemanfaatan nypa sebagai gula merah. Dari sana, masyarakat diharapkan bisa menjaga kelestarian mangrove. “Dulu nypa hanya bahan atap rumah atau kayu bakar. Jika jadi gula, peluang ekonomi bisa terbuka. Mangrove terjaga, masyarakat sejahtera.”
Dia mengatakan, jika efektif, penyadapan satu mayang bisa menghasilkan satu liter nira atau dua batang gula per hari. Dari penyadapan 60 mayang, misal, hanya 30 efektif, per hari 60 batang gula merah.
Proses penyadapan nira tadi sekaligus memberi pelajaran bagi masyarakat dalam menghasilkan produk lebih baik. Menurut dia, kontak langsung mayang dengan sinar matahari cukup mempengaruhi ketersediaan nira. Makin teduh mayang, makin banyak air keluar. “Kami akan coba menyadap satu mayang per pohon. Tidak akan lagi penyadapan tiga mayang satu pohon.”
Tanaman nypa cukup banyak, tetapi selama ini dimanfaatkan sebatas atap dan kayu bakar. Jika, dibuat gula merah, maka warga bisa memanfaatkan dengan tetap melindungi mangrove ini. Foto: Themmy Doaly

Nypa (Nypa fruticans) merupakan jenis mangrove memiliki  buah seperti pandan dengan panjang bonggol hingga 45 cm. Hasil riset N.M Heriyanto dkk, menyebutkan, areal nypa di Indonesia diperkirakan 700.000 hektar, terluas di dunia dibandingkan Papua Nugini (500.000 hektar) dan Filipina (8.000 hektar).
Rehabilitasi mangrove
Rahman Dako, Project Coordinator MfF-SGF, menilai, Desa Deaga menjadi satu lokasi perlindungan dan rehabilitasi mangrove. Ia bagian Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), salah satu lokasi perikanan strategis di Teluk Tomini. “Bolsel memiliki mangrove relatif terjaga, meskipun dalam catatan kami ada sedikit penurunan tutupan mangrove dalam 10 tahun terakhir.”
Ruslani Mokoginta, Sangadi (kepala desa) Deaga membenarkan pendapat Rahman Dako. Menurut dia, ekosistem mangrove menjadi lokasi pemijahan sumber daya perikanan, seperti kepiting, kerang, kerapuh, dan banyak lagi. “Karena mangrove relatif baik, banyak ikan bisa diambil. Keterikatan masyarakat dengan mangrove cukup kental. Semacam ada kedekatan emosional.”
Perlindungan mangrove penting, bukan hanya dari sisi ekonomi juga perlindungan bencana. Pada 2006,  pemerintah kabupaten (waktu itu Bolaang Mongondow) pernah alih fungsi hutan mangrove menjadi sawah, mencapai 10 hektar. Tak lama, banjir melanda.
Beberapa tahun belakangan,  Desa Deaga menjadi lokasi rehabilitasi mangrove. Beberapa tahun lalu, lewat program sustainable coastal livelihood and management (Susclam) menanam mangrove sekitar 25.000 bibit.  Tahun lalu, Dinas Kehutanan Bolsel menanam 40.000 bibit. “MfF difasilitasi perkumpulan Kelola, sudah 4.200 Rhezopora Sp ditanam di Desa Deaga.”

Mangrove di Bolaang Mongondow Selatan, relatif masih terjaga. Foto: Themmy Doaly

Ari dan Batik Pesisir, antara Hutan Mangrove dan Pelanggan Singapura

sumber: http://news.detik.com/berita/2946269/ari-dan-batik-pesisir-antara-hutan-mangrove-dan-pelanggan-singapura

Surabaya - Wali Kota Tri Rismaharini memang getol menyelamatkan lingkungan dari bahaya erosi dengan membuat hutan mangrove di Wonorejo, Rungkut atau Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). 

Selain sebagai bendungan, hutan mangrove juga dimanfaatkan sebagai wisata air dan ekowisata. Ide pengembangan hutan Mangrove Wonorejo ini sekaligus sebagai upaya untuk memanfaatkan waduk untuk mengendalikan banjir.

Hutan mangrove yang kini banyak dikunjungi warga ini memberi inspirasi bagi Ari Bintarti, pemilik Batik Alsier pantas berbangga. 

Ibu rumah tangga asal Wonorejo, Rungkut, Surabaya, ini mampu memproduksi batik motif pesisir yang kini sudah menasional. 

Bahkan, ia punya pelanggan khusus yang tinggal di Singapura.  Ari memulai usaha di tahun 2009. Modal awalnya cuma Rp 1 juta. Saat itu, perempuan yang punya hobi menggambar dan melukis, mencari inspirasi hutan mangrove yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. 

Dalam perenungan tercetus ide untuk membuat batik yang mewakili ikon Surabaya. Dan pilihannya pun jatuh pada mangrove.

"Saya berpikiran motifnya punya nafas pesisir yang menjadi ikon Surabaya," ujar Ari Bintarti saat ditemui di rumahnya.

Satu demi satu produk batik motif pesisir lahir dari sentuhan tangan dingin Ari. Setelah membuat, ia mencoba meminta pendapat dan masukan teman-temannya. Ari memang sangat terbuka untuk menerima kritik. 

Bergabung dengan program Pahlawan Ekonomi, ia kemudian memamerkan produknya. Hasilnya memang tidak sia-sia. Dia memenangi Penghargaan Pahlawan Ekonomi Surabaya 2014 untuk kategori Creative Industry. Pelan tapi pasti, batik pesisirnya mulai dikenal di Kota Pahlawan. 

"Saya bersyukur," ujar Ari.

Peluang mengembangkan usaha makin terbuka. Ari dengan batik pesisirnya beberapa kali diundang pameran di Jakarta. Awalnya, Ari merasa minder, ia pesimis produknya bisa mencuri perhatian warga di luar Surabaya. 

"Alhamdulillah, ada juga yang membeli produk saya dari luar pulau," jelasnya.
  
Yang membanggakan Ari, suatu ketika saat pameran di Jakarta, ada warga Singapura yang kepincut batik buatannya. Selain senang dengan motif Surabaya, ia juga menyukai corak warna merah putih yang juga menjadi salah satu motif batik pesisir. 

"Kebetulan pembeli batik saya itu dulu warga Indonesia yang bermukim di Singapura. Di sana dia mengaku memakai batik saya itu untuk upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia," ungkap Ari.

Pembeli asal Singapura itu pun hingga sekarang masih sering membeli batiknya. Kebetulan Ari juga memasang produk-produknya di situs jejaring sosial seperti facebook dan instagram. 

Perkembangan motif yang cepat membuat Ari terus meng-upgrade diri. Dia berusaha mencari motif-motif lain yang menjadi ciri khas Surabaya. 

Batik pesisir pun kini sudah berkembang dengan motif campuran. Selain mangrove juga ada Tugu Pahlawan, Bambu Runcing, Semanggi, Tari Remo, dan lain-lainya.

Sekarang,  Ari sudah memiliki enam pegawai khusus untuk batik. Dalam dua bulan bisa dapat omset Rp 57 juta. "Tapi itu tergantung pesanan, lho," ungkap dia. 

Dalam menjaga kualiatas, Ari tidak sembarangan membuat batik. Makanya sebulan, dia hanya memproduksi 50 lembar batik. Untuk satu motif, paling banter dia membuat tiga lembar.

Menjaga Mangrove di Tengah Keterancaman


Jalan tol yang melewati kawasan hutan mangrove Tuban, Bali. Foto: Luh De Suriyani
Azhar Kasim, berkata lantang. Dia meminta pemerintah menindak tegas preman pengusaha sawit yang menekan kelompok pemulihan mangrove di Desa Lubuk Kertang, Langkat, Sumatera Utara.
“Preman-preman kebun sawit itu mengancam saya dengan senjata. Penegakan hukum pelaku perusakan hutan mangrove harus tegas,” katanya. Ucapan itu ditujukan kepada Hilman Nugroho, Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada lokakarya pelestarian mangrove di Bali, pekan lalu.
Azhar mengatakan, ada kelompok warga mau merehabilitasi 1.200 hektar mangrove yang jadi kebun sawit.  Sejak 2009, katanya, bersama Kelompok Tani Mangrove Keluarga Bahari mencoba mengembalikan mangrove dengan menjebol beberapa tembok yang dibangun perusahaan sawit.
Setelah tembok jebol, aliran air laut bisa kembali masuk dan merusak kebun sawit. Sebelumnya, perusahaan sawit mematikan mangrove di sana.
Azhar menyebut baru 275 hektar dari 1.200an hektar lahan kembali jadi hutan mangrove. “Hasil melaut berkurang karena mangrove hilang. Saya besar dari penghasilan nelayan tradisional ini,” katanya.
Nelayan tradisional di areal mangrove ini disebut ambai. Mereka biasa membuat semacam perangkap, ketika air laut surut mendapat ikan– mayoritas udang yang banyak di ekosistem mangrove.
“Sebelum diubah jadi kebun sawit sebulan penghasilan bisa Rp2-3 juta, turun jadi Rp200.000-300.000 setelah mangrove mati,” kata Azhar.
Kelompok tani ini, merancang program ekowisata mangrove untuk menambah penghasilan nelayan setelah tanaman itu dihidupkan kembali dan berusia empat tahun.
Rehabilitasi mengutamakan akses nelayan lokal ini juga dilakukan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Dia hadir di antara kelompok warga pelestari mangrove di Indonesia.
Menurut dia, tak mudah melawan praktik pemberian izin alih fungsi mangrove. Pada 1980, kawasan timur Surabaya nyaris habis. Pernah ada yang mencoba mengembalikan hutan mangrove lalu rusak lagi. Kala jadi walikota 2010,  dia mengeluarkan peraturan daerah menghentikan izin alih fungsi ini. Dari 3.600 hektar, bisa selamat 2.500 hektar menjadi ruang terbuka hijau kawasan konservasi.
“Kita akan bebaskan terus. Kawasan timur Surabaya lebih banyak terancam karena langsung berbatasan lautan lepas.”
Untuk menarik warga terlibat upaya konservasi, Risma membuat program pemberdayaan UKM lewat usaha pengolahan hasil bakau seperti tempe dan kerupuk mangrove.
Pemerintah kota juga mendorong spesialisasi tangkapan nelayan di pesisir utara. Tiap kampong punya spesifikasi hasil laut, seperti bandeng, kepiting, ikan. Risma melarang, akses air bersih dan listrik ke kawasan konservasi agar tak menarik alih fungsi lahan.
Pembibitan mangrove di Tahura Ngurah Rai, Bali. Foto: Luh De Suriyani
Di Bali, kondisi kebalikan. Kepala Dinas Kehutanan I Gusti Ngurah Wiranatha menyebut banyak proyek besar di kawasan hutan mangrove Ngurah Rai, misal jalan tol di perairan Teluk Benoa dan pelabuhan.
Pengelolaan hutan mangrove juga diberikan kepada investor, dan bermasalah karena dinilai sepihak dan tak trasparan dalam pemberian izin. Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali 2013, menggugat Gubernur Bali ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar karena mengeluarkan surat keputusan (SK) izin pemanfaatan Taman Hutan Rakyat Ngurah Rai  122,22 hektar ke PT. Tirta Rahmat Bahari (TRB). Investor membuat hiburan dan akomodasi dalam hutan mangrove ini.
Dia mengatakan, pemerintah merencanakan revitaliasi 100 hektar pendangkalan dan diklaim tak bisa ditanami mangrove. Karena itu, harus buat alur memudahkan aliran air laut. “Belum ada reklamasi. Masih pengkajian.”
Izin reklamasi untuk PT. TWBI yang ditentang sejumlah warga antara lain, ForBali yang menganggap revitalisasi dengan cara reklamasi bukan jalan keluar. Sebab, merusak lingkungan. Pemberian izinpun dinilai tak transparan.
Tahura Ngurah Rai luas.300an hektar. Memiliki 55 jenis mangrove, dikelompokkan dalam blok perlindungan 610 hektar, pemanfaatan 350 hektar, blok lain seperti pemulihan, khusus, dan religi 413 hektar.
Hilman Nugroho membaca sambutan Menteri Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, sekitar 29% atau lebih dari 1 juta hektar hutan mangrove di Indonesia, rusak.
Dari lebih 3 juta hektar, dalam kondisi baik dan sedang sekitar dua juta. Kerusakan mangrove karena alih fungsi, tambak, pemukiman, industri, infrastruktur, pencemaran limbah, dan lain-lain.
Prof Cecep Kusmana,  Guru Besar Kehutanan IPB meyakinkan mangrove meningkatkan kesuburan tanah. “Juga di pasir seperti Kepulauan Seribu. Harus dilindungi dan dikonservasi.”
Mangrove Cilacap, bisa mengurangi pencemaran dengan menyerap logam berat, intrusi air laut bisa dikurangi, di Pantai Jakarta dari satu km menjadi empat km setelah ada mangrove.
Semua bagian pohon seperti biji dan batang bermanfaat karena mengandung anti oksidan. Teknik rehabilitasi juga berkembang seperti Guludan, breakwater dan menanam di tambak.
Prof Tridoyo Kusumastanto dari IPB mengkritik kebijakan pemerintah dalam rehabilitasi mangrove. Pertama, salah menangkap isu. “Seperti kata Bu Risma, satu manusia berharga. Kalau konsep itu hilang, proses pengambilan kebijakan salah.”
Kedua, implementasi salah walau isu benar. “Implikasi luas kalau ada reklamasi, fungsi terganggu maka sulit mempertahankan keberlanjutan.”
Dwi Wahyu Daryoto, Direktur SDM dan Umum Pertamina memberikan bantuan dana sosial ke komunitas mangrove karena ingin berkontribusi ke masalah global lingkungan dan ketersediaan energi. Secara global, usaha kini harus berorientasi profit, people, dan planet.
Ratna dari Mangrove Action Project Makassar mengkritisi kebijakan pemerintah penganggaran dalam pembibitan. Anggaran, bisa hemat jika penanaman mangrove tepat. “Dari data,  keberhasilan penanaman  rendah. Berjuta mangrove ditanam, seringkali di tempat sama tapi gagal.” Menurut dia, acuan penanaman harus dievaluasi  hingga kegagalan tak berulang.
Nelayan Tuban membuat ekowisata mangrove. Foto: Luh De Suriyani


Kamis, 18 Juni 2015

OISCA - Gerakan Reboisasi Mangrove di Indonesia

Organization for Industry, Spiritual, Culture, and Advancement (OISCA), merupakan sebuah organisasi international dari Jepang yang memiliki tujuan untuk berkontribusi kepada pengembangan keberlangsungan lingkungan.

Salah satu program OISCA adalah gerakan reboisasi mangrove di Indonesia, yang telah dimulai sejak tahun 1999. Program ini dikepalai oleh Mr. Nakagaki Yutaka. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain:

  • Restorasi kerusakan hutan mangrove yang disebabkan oleh tebangan pohon untuk membuat kolam tambak udang
Penanaman kembali mangrove di kolam warga
  • Penyelenggaraan workshop dan seminar untuk penduduk lokal tempat dilaksanannya proyek ini. Seminar ini mengingatkan pentingnya konservasi dan perlindungan mangroves terhadap keseharian penduduk.
Koordinator OISCA Indramayu memberikan seminar kepada warga
  • Menanam kembali 2230 hektar hutan mangrove dengan berbagai spesies mangrove di pantai utara Jawa hingga pantai selatan Madura.

Penanaman Rhizophora mucronata pada tahun 1999 di Pemalang.

  • Mendorong budidaya kepiting cangkang lunak untuk warga Pemalang di hutan mangrove yang telah ditanam kembali.
Hasil budidaya kepiting cangkang lunak.
  • Dicanangkannya tempat penanaman mangrove sebagai tujuan wisata dan ecotourism oleh pemerintah Pemalang.


Penanaman Mangrove di SMKN 1 Jepara



JEPARA, suaramerdeka.com - Lebih dari 100 pelajar dari Kudus dan Jepara, Minggu (11/5) melakukan upaya penyelamatan pantai dari ancaman abrasi di Desa Clering Kecamatan Donorojo, Jepara. Upaya penyelamatan dilakukan melalui penanaman mangrove (bakau) di hamparan pembatas garis pantai dengan tambak milik warga.
Mereka terdiri atas 70-an pelajar dari SMA Negeri 1 Jekulo-Kudus dan SMK Negeri 1 Jepara, serta 50 lebih dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Clering. Selain guru pembimbing dari sekolah masing-masing, mereka juga didampingi kelompok mangrove Sahabat Pantai.
Hal itu dikatakan Koordinator Organization Industrial Cultural Advichement (OISCA) Jepara Bambang Hadi Sutrisno, kemarin. OISCA International adalah organisasi sosial asal Jepang yang telah melakukan berbagai kegiatan di Jepara sejak 2009.
Bambang mengatakan, pihaknya melibatkan anak-anak dalam program ini sebagai upaya pengenalan dini akan arti pentingnya lingkungan hidup. ?Ada beberapa program yang dilakukan OISCA di Indonesia, di antaranya program Children's Forest Programme.
"Melalui program pendidikan lingkungan hidup ini kami berharap agar kelak mereka memahami betapa pentingnya memelihara lingkungan hidup serta mengerti bahaya dampak kerusakannya," jelas Bambang.
Pada kesempatan tersebut, dilakukan penanaman 7 ribu bibit mangrove. Lokasi penanaman memisahkan garis pantai dengan lahan tambak seluas 27 hektare yang sangat rawan abrasi.
"Sebenarnya upaya yang sama telah kami lakukan pada 2009. Tapi kali ini kami harus melakukan penyulaman karena  sebagian besar mangrove yang telah kami tanam gagal tumbuh atau hilang terkena abrasi dan gelombang laut. Faktor dominan lain adalah sedikitnya debit air payau sehingga kadar garam di lokasi penanaman sangat tinggi. Selain itu struktur lahan ideal untuk tumbuh kembang mangrove adalah pantai berlumpur, tapi di sini mayoritas didominasi pasir," katanya.
Karena minimnya tingkat tumbuh bibit tertanam, Bambang berharap setiap saat pemerintah daerah proaktif melakukan upaya perlindungan pantai dengan menerbitkan perda pengelolaan lahan pantai.